Social Icons

Tampilkan postingan dengan label Maut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maut. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Agustus 2014

Ciri Sakarotul Maut

Mengetahui tentang ciri-ciri seseorang sedang Sakaratul maut sangat penting. kita sangat memerlukannya karena bahagia atau tidaknya seseorang diakhirat nanti juga ditentukan oleh saat-saat ketika seseorang sedang menghadapi ajalnya seperti dikatakan dalam hadits: “Siapa yang akhir ucapannya: “Laa Ilaaha Illallah” dia akan masuk syurga“. Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah, Lihat Shahih Tirmidzi 3/152 dan Shahih Ibnu Majah:2/317. 

Seandainya orang yang sedang sakaratul maut itu adalah teman kita, saudara kita atau orang tua kita maka kewajiban kita adalah mentalqinnya. 


Jika kita menjumpai seseorang dalam sakaratul maut, kita dituntut untuk melakukan talqin (bimbingan) kepadanya dengan kalimah tauhid agar ia tetap dalam keadaan muslim hingga akhir hayatnya.
Sabda Nabi Muhammad sholallahu  alaihi wassalam :
لَقِّنُوْ مَوْتَاكُمْ: “لَااِلَهَ اِلَّااللهُ
“Bimbinglah orang yang menghadapi kematian dengan “laa ilaaha illa allah” (HR Muslim)

Mengingat pula hadits yang berbunyi:
مَنْ كَانَ اَخِرُ كَلاَمِهِ “لَااِلَهَ اِلَّااللهُ” دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa di akhir hayatnya sempat mengucapkan “laa ilaaha illa allah”, ia akan masuk surga” (HR Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan ilmu ciri-ciri orang yang sedang mengalami sakaratul maut dengan kematian normal, bukan karena kecelakaan:
  1. Nafasnya cepat dan dangkal ...gak mirip orang yang sedang lari marathon... dan agak mendengkur;
  2. Suhu tubuh tiba-tiba naik diikuti frekuensi denyut jantung yang semakin cepat, lalu kemudian menjadi dingin diikuti menurunnya frekuensi denyut nadi;
  3. Mengalami perasaan resah dan gelisah yang sangat disertai bercucurannya keringat;
  4. Tangannya kebiru-biruan, mendinginnya sekujur tubuh yang dimulai dari bagian kaki lalu seluruh tubuh;
  5. Mulutnya mengeluarkan kata-kata yang paling sering ia katakan. Misalnya, “Allah,,,Akbar” (Ini, kalau dia adalah orang yang rajin berdzikir), atau mengatakan perkataan yang kotor seperti “Anjing”, dan lain-lain;
  6. Penginderaan dan gerakan menghilang secara berangsur-angsur yang dimulai pada anggota gerak paling ujung khususnya pada ujung kaki, tangan, ujung hidung yang terasa dingin dan lembab;
  7. Kulit nampak kebiru-biruan kelabu atau pucat;
  8. Menurunnya tekanan darah, peredaran darah perifer menjadi terhenti dan rasa nyeri bila ada biasanya menjadi hilang. Kesadaran dan tingkat kekuatan ingatan bervariasi tiap individu. Otot rahang menjadi mengendur, wajah pasien yang tadinya kelihatan cemas nampak lebih pasrah menerima.
Setelah kita mengetahui ciri-ciri orang yang sedang sekarat diatas, maka kewajiban kita adalah mentalqin (membisikan, membimbing mengucapkah “Laa Ilaaha Illallah” atau kalimat syahadat.

Melihat batapa sakitnya sakarotul maut maka bagi sseorang yang mengalami sakit keras hendaknya dilakukan hal-hal antara lain :
  1. Di bimbing agar berbaik sangka kepada Allah subhanahu wa ta'ala, Rasulullah sholallahu alaihi wassalam bersabda : “Jangan sampai seorang dari kamu mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah” selanjutnya Ibnu Abas berkata”Apabila kamu melihat seseorang menghadapi maut, hiburlah dia supaya bersangka baik pada Robbnya dan akan berjumpa dengan Robbnya itu”(HR: Muslim )
  2. Hendaklah mendo’akannya dan mengucapkan kata-kata yang baik. Dari Ummu Salamah berkata : Rasulullah sholallahu alaihi wassalambersabda: “Apabila kalian mendatangi orang yang sedang sakit atau orang yang hampir mati, maka hendaklah kalian mengucapkan perkataan yang baik-baik karena para malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.”
  3. Membasahi kerongkongannya dengan air. Karena bisa saja kerongkongannya kering karena rasa sakit yang menderanya, sehingga sulit untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. (Al-Mughni : 2/450 milik Ibnu Qudamah)
Akhirnya, kematian adalah rahasia Allah. Mungkin saja ternyata kitalah yang akan mengalaminya, maka carilah teman yang faham agama yang bisa membimbing kita saat kita menghadapi kematian, bukannya mencari teman yang suka bermaksiat karena teman seperti itu hanya akan membawa bencana untuk kita. 
Semoga bermanfaat

Rabu, 27 Agustus 2014

Disunahkan Sakarotul Maut

Adakah hal-hal yang disunahkan menjelang sakarotul maut...

Beberapa hal yang disunahkan,  tatkala dekatnya ajal seseorang yaitu :  

Mengajarkan membaca La ilaaha illallaah...

Yakni mengajarnya membaca "La ilaaha illallaah." Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud dan Turmudzi dari Abu Sa'id al-Khudri, bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wassalam bersabda: "Ajarkanlah orang-orangmu yang akan meninggal membaca La ilaaha illallaah!" Dan diriwaytkan pula oleh Abu Daud dari Mu'adz bin Jabal rodhiallahu anhu yang dinyatakan sah oleh Hakim, bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wassalam bersabda: "Siapa-siapa yang ucapan terakhirnya berbunyi La ilaha illallah, pastilah ia masuk surga!". Dan talqin itu dilakukan hanyalah bila seseorang itu telah tak sanggup lagi mengucapkan kalimat syahadat. Jika ia masih dapat mengucapkannya, maka tak ada artinya untuk mengajarinya. Juga talqin hanyalah terhadap orang yang masih sadarkan diri dan dapat berbicara. Orang yang hilang ingatan tak mungkin dapat ditalqinkan, sedang orang yang tak dapat berkata-kata, hendaklah ia mengulang-ulang syahadat dalam hatinya. 

Menghadapkannya kearah kiblat...

Menghadapkannya ke arah kiblat, dalam keadaan berbaring pada sisi badan yang kanan. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Abu Qatadah, juga oleh Hakim yang menyatakan sahnya. "Bahwa tatkala Nabi saw. tiba di Madinah, ia menanyakan Barra'bin Ma'rar, Ujar mereka: 'Ia sudah wafat dan mewasiatkan sepertiga hartanya buat Anda, juga agar ia dihadapkan ke arah kiblat sewaktu hendak meninggal.' Maka sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam : "Tepat menurut ajaran Agama Islam! Mengenai hartanya yang sepertiga itu telah saya kembalikan kepada anaknya.' ....... Dan Ahmad meriwayatkan bahwa sewaktu hendak meninggal, Fathimah putri Nabi sholallahu alaihi wassalam menghadap ke arah kiblat, kemudian memiringkan dirinya ke sebelah kanan. Menghadap kiblat ini ialah menuruti cara seeperti dititahkan Nabi sholallahu alaihi wassalam waktu tidur, begitu pun letakn mayat dalam kubur. 

Membacakan Surah Yasin...

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Nasa'i, juga oleh Hakim dan Ibnu Hibban yang menyatakannya sah dari ma'qil bin Yasar: "Yasin adalah jantung Al-Qur'an, dan tidak seorang pun yang membacanya dengan mengharapkan keridhaan Allah dan pahala akhirat, kecuali ia kan diampuni-Nya. Dan bacakanlah ia kepada manusia, yakni orang yang hendak meninggal diantaramu!" Menurut Ibnu Hibban: "Maut maksudnya ialah orang yang telah dekat ajalnya, jadi maksudnya bukan dibacakan kepada mayat (orang yang telah meninggal dunia)" 

Menutupkan kedua matanya...

Menutupkan kedua matanya bila telah meninggal. berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang lalu, artinya: "Bahwa Nabi sholallahu alaihi wassalam datang melawat Abu Salamah. Didapatinya matanya terbuka, maka ditutupkannya, lalu katanya: 'Jika nyawa seseorang dicabut, akan diikuti oleh pandangan matanya'." 

Menyelimuti tubuhnya...

Menyelimutinya agar tidak tidak terbuka dan supaya rupanya yang berubah tertutup dari pandangan. Diterima dari 'Aisyah rodhilallahu anhu : "Bahwa Nabi sholallahu alaihi wassalam ketika beliau wafat, jasadnya ditutupi dengan selimut Yaman." Dan dibolehkan mencium mayat menurut ijma'. Rasulullah sholallahu alaihi wassalam telah mencium mayat Usman bin Mazh'un, sedang Abu Bakar Rodhiallahu anhu menelungkup dan meratapi tubuh Nabi sholallahu alaihi wassalam sewaktu ia wafat, lalu menciumnya diantara kedua matanya, serta katanya: "Wahai Nabiku, wahai junjunganku yang kucinta...! 

Segera menyelenggarakan pemakamannya...

Segera menyelenggarakan pemakamannya, bila telah diyakini kematiannya. Maka hendaklah walinya segera memandikan, mensholatkan dan menguburkannyaa sebelum timbul perubahan. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Hushein bin Wahwah tanpa penjelasan lebih lanjut, Nabi sholallahu alaihi wassalam pergi menjenguk ketika Thalhal bin Barra' jatuh sakit, maka katanya: "Tak sempat lagi saya melihat Thalhal kecuali setelah ia menjadi mayat! Dari itu hendaklah kamu cepat memberitahukan padaku, dan mengenai jenazah, hendaklah segera pemakamannya, karena tidak layak bila jenazah Muslim itu ditahan lama-lama diantara keluarganya!" Dan tidak seorangpun yang dinantikan kehadirannya kecuali wali. Mengenai wali ini, memang boleh ditunggu selama mayat tidak dikhawatirkan akan berubah. 

Membayar hutangnya...

Membayar utangnya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Rodhiallahu anhu oleh Ahmad dan Ibnu Majah, juga oleh Turmudzi yang menyatakan sebagai hadits hasan, bahwa Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda: "Nyawa seorang mukmin itu tergantung kepada utangnya sampai dibayar lebih dulu." 

Maksudnya urusannya terhalang, tak dapat diputuskan berbahagia atau celaka atau terhalang buat masuk surga. Ini buat mayat yang berhutang dan ada meninggalkan harta untuk membayarnya. 

Adapun orang yang tidak mempunyai harta dan meninggal dengan rencana hendak membayarnya, maka ada keterangan bahwa Allah akan membayarkannya, demikian pula orang yang memilki harta dan hendak membayarnya, tetapi tidak dibayarkan oleh ahli warisnya. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah Rodhiallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda: "Barang siapa mengambil harta orang dan bermaksud hendak membayarnya, maka Allah akan membayarkannya. Dan barang siapa yang mengambilnya dengan maksud hendak menggelapkannya, (berniat tidak membayar-pen.), maka Allah akan menghabiskannya." 


Doa Sakarotul Maut

Hadits Tentang Do'a Saat Sakaratul Maut 

Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Aisyah r.a., ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam)

 إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي أخرجه البخاري ك الرقاق باب سكرات الموت و في المغازي باب مرض النبي ووفاته. الرَّفِيقِ الْأَعْلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ

 "Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: "Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut". Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: "Menuju Rafiqil A'la". Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas." 

Rasulullah sholallahu alaihi wassalam di akhir hayatnya pernah memohon pertolongan kepada Allah untuk menghadapi godaan syetan saat sakarotul maut serta kepedihan proses keluarnya ruh. Do’a beliau, “Ya Allah, tolonglah saya untuk mengahadapi sakaratul maut.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah). Itulah do’a Rasulullah untuk menghadapi sakaratul maut. 

Syetan tidak akan menyia-nyiakan waktu itu untuk menggoda dan menyesatkan anak Adam. Sampai menjelang akhir hayatnya, syetan akan hadir pada waktu sakaratul maut. Ia berusaha mendoktrin dan mengelincirkan manusia dari jalan yang benar. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya syetan akan mendatangi kalian saat menjelang kematiannya. Ia menyeru: ‘Matilah sebagai seorang Yahudi, matilah sebagai seorang Nashrani.” (HR. Nasa’i).

Sakitnya Sakarotul Maut

Bagaimana sakitnya sakarotul maut...?

Kita tidak bisa membayangkan, betapa dahsyatnya pertarungan iman seorang mukmin melawan syetan. Padahal kondisi orang yang sedang sakaratul maut adalah kondisi yang menyakitkan dan melelahkan. Rasa sakitnya melebihi sayatan pisau dan pedang, karena ruh dicabut dari segenap penjuru anggota tubuh. Fase sakaratul maut seringkali di sebutkan oleh Rasulullah sebagai fase yang sangat berat dan menyakitkan sehingga kita diajarkan do’a untuk diringankan dalam fase sakarotul maut. Sakarotul maut juga dapat dikatakan sebagai warming up (pemanasan) kematian. 

Karena kematian itu sulit, berat dan amat sakit maka diperlukan pemanasan. Di samping itu, sebagaimana kehidupan, maka kematian memerlukan tahap yaitu :
  1. Manusia memerlukan proses dan tahapan kematian
  2. Manusia memerlukan proses dan tahapan agar bisa memasuki penginapan
  3. Penginapan yang dimaksud adalah Alam Barzakh, sebuah penginapan yang jauh lebih besar dan sangat berbeda situasi, kondisi dan lingkungannya dengan dua penginapan sebelumnya, yakni perut atau rahim ibu kita dan bumi untuk kehidupan dunia.
Selanjutnya sebagai gambaran betapa dahsyatnya sakarotul maut, kami cantumkan hadits Nabi Muhammad sholallahu alaihi wassalam dibawah ini :

  1. “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)
  2. “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari) 
“Wahai annakku! Demi Allah, seolah-olah ranting berduri dicabut dari kakiku sampai ke kepala.” Imam Ghazali berkata, “Sakaratul maut lebih dahsyat daripada pukulan pedang, lebih tajam dari mata gunting dan gergaji. Kalau satu urat saja ditarik dari tubuh manusia, niscaya ia akan menjerit kesakitan. Lalu bagaimana kalau yang ditarik dari tubuh itu ruhnya, yang tidak ditarik dari satu urat saja, tapi dari semuanya. Kemudian setiap anggota tubuhnya akan mati secara bertahap. Pertama kakinya terasa dingin, lalu kedua betisnya, kemudian kedua pahanya. Setiap anggota tubuh merasakan sekarat dan kepedihan sampai kerongkongannya. Pada saat itu terputuslah pandanganya dari dunia dan keluarganya, tertutup pintu taubatnya, dan penyesalan pun meliputi pikiranya.” (Ihya’ Ulumiddin: 4/419)

Definisi Sakarotul Maut

Apa Definsi Sakarotul Maut...

Definisi Sakaratul Maut : Sakarotul maut merupakan kondisi orang yang sedang menghadapi kematian, yang memiliki berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggal. Dalam istilah sehari-hari sering disebut dengan sekarat, menjelang ajal.

Diutamakan bagi orang-orang yang saleh untuk mendampingi orang-orang yang akan meninggal dunia, guna mengingatkan kepada Allah. Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim dan Ash-Habus Sunan dari Ummu Salamah Rodhiallahu anhu, bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wassalam bersabda: "Jika kamu menjenguk orang yang sakit atau melawat yang meninggal, hendklah kamu mengucapkan kata-kata yang baik, karena para Malaikat akan turut mengaminkan apa-apa yang kamu ucapkan itu..."
 
Blogger Templates
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم